Atlet dan Pendidikan

Pia Zebadiah dan Bona Septano

Bulutangkis.com – Tanggal 2 Mei 2008 dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional, saya pernah menulis di situs Bulutangkis.com mengenai pendidikan bagi atlet. Di artikel tersebut, saya berharap pemerintah maupun atlet sendiri memperhatikan pendidikan formal sang atlet sebagai bekal bagi mereka setelah pensiun.

Kenyataan yang terjadi, banyak atlet dari berbagai cabang olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa, mengalami kesulitan ekonomi selepas profesinya sebagai atlet. Bekal pendidikan yang kurang merupakan salah satu penyebab masalah tersebut disamping kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap kesejahteraan mantan atlet.

Saat artikel tersebut saya tulis, juga berdekatan waktunya dengan akan digelarnya kejuaraan dunia bulutangkis antar universitas (World University Badminton Championships) yang diselenggarakan 4-11 Mei 2008 di Braga, Portugal. Indonesia mengirimkan atletnya yang terdiri dari Ahmad Rivai, Bona Septano, Davin Prawissa, Rio Willianto, Nitya Krishinda, Nadya Melati, Belaetrix Manuputy dan Devi Tika Permatasari, berangkat mewakili Indonesia. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya beberapa diantara atlet menyandang status mahasiswa, tetapi kenyataannya mereka tidak dapat menyisihkan waktu untuk studinya tersebut. Status mahasiswa terkadang hanya sekedar legalitas mengikuti kejuaraan seperti POM (Pekan Olahraga Mahasiswa), Kejuaraan Dunia antar universitas maupun Unversiade.

Ketika itu, pebulutangkis dunia asal Thailand, Bonsak Ponsana memberikan contoh bagaimana dia bisa berprestasi di bulutangkis dan mampu menyelesaikan gelar kesarjanaannya. Tidak banyak atlet yang mampu melakukannya.

Tiga tahun berlalu dihitung dari saya menulis artikel tersebut, saya dikagetkan dengan berita bahwa pemain kakak beradik Bona Septano dan Pia Zebadiah berhasil di wisuda dari universitas dimana mereka menuntut ilmu. Kedua adik kandung Markis Kido tersebut membuktikan bahwa atlet Indonesia juga mampu menyelesaikan pendidikan formalnya walaupun menghadapi kesibukan dan kelelahan sebagai seorang atlet. Bona Septano dan Pia Zebadiah berhasil lulus sebagai sarjana strata-1 (S-1) dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mulia Pratama di Bekasi. Keduanya sama-sama mengambil jurusan Ekonomi Manajemen dan diwisuda pada Sabtu, 8 Oktober (kemarin) di Hotel Horison, Bekasi.

Karir Bona dan Pia di bulutangkis juga tidak bisa dianggap remeh. Berbagai prestasi dan gelar juara sudah mereka raih. Terakhir Bona menjuarai ganda putra Indonesia Open Grand Prix 2011 bersama Mohammad Ahsan. Gelar yang sama yang diperoleh di tahun sebelumnya. Bona bersama Ahsan kini menempati peringkat ke-6 dunia. Sementara Pia menempati peringkat ke-13 dunia di nomor ganda campuran bersama Fran Kurniawan.

Keberhasilan Bona dan Pia sebagai atlet yang mampu menyelesaikan kuliahnya, layak menjadi contoh bagi atlet Indonesia lainnya. Semoga keberhasilan itu juga menjadi bekal berharga bagi masa depan sang atlet setelah gantung raket nantinya. Selamat buat Bona dan Pia. (Hendri Kustian)

Atlet Tampil di Acara Talk Show Kick Andy

Fran & Fernando Kurniawan Bersama Sang Mama

Fran & Fernando Kurniawan Bersama Sang Mama

Dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional, stasiun televisi Metro TV akan menayangkan acara Talk Show Kick Andy dengan tema “DEMI PRESTASI SANG BUAH HATI”. Acara tersebut ditayangkan dalam dua kali kesempatan yakni hari Jumat tanggal 24 September 2010 pukul 21.30 WIB dan tayang Ulangnya pada hari Minggu, 27 September 2010 pukul 14.30 WIB. Sinopsisnya adalah sbb. :

Bagi sebagian orang, profesi atlet mungkin bukan lagi sebuah pilihan, tapi sejumlah orang tua yang hadir di Kick Andy kali ini telah mengorbankan banyak hal agar sang anak bisa mewujudkan cita-cita menjadi atlet dan prestasinya mendunia.

Pasangan Kiswadi dan Hariyani yang mantan atlet balap motor tingkat local asal Yogyakarta misalnya. Hobi mereka main di sirkuit, secara langsung telah menurun pada putranya, Doni Tata Pradita. Maklum, Pasangan itu sering bermain di sirkuit sambil mengasuh putranya itu. Alhasil umur 9 tahun, Doni sudah merengek minta ikut balapan. “Pertama kali saya balap memakai baju bekas ibu saya,” kenang Doni.

Upaya keras dilakukan pasangan ini agar bisa mewujudkan cita-cita anaknya menjadi pembalap. Usaha bengkel kecil-kecilan kadang tak cukup untuk memodali sebuah event. “Kadang kami harus menggadaikan beberapa barang di rumah, agar Doni bisa ikut lomba,” kata Kiswandi saat tampil di Kick Andy.

Perjuangan tertatih-tatih telah member buah yang manis. Kini Doni sudah menorehkan berbagai prestasi, mulai tingkat daerah,hingga internasional. Prestasi dunianya dimulai dengan gelar pembalap pertama dari Indonesia pada kelas 250 CC, di Grand Prix kejuaraan dunia, tahun 2008 lalu, saat ia berusia 17 tahun.

Keinginannya menjadi juara dunia, terus diasah, melalui latihan fisik dengan motocross. Tahun ini, ada 2 seri kejuaraan tersisa, yakni di China, Oktober mendatang dan di pengujung tahun 2010, Doni akan berlaga lagi di Qatar, pada ajang Asia Super Sport.

Dari Bekasi, ada kisah tentang Irene Kharisma ZSukandar, seorang Grand Master Wanita Internasional, yang lahir dari keluarga pasangan Singgih Yehezkiel dan Cici Ratna Mulya. Pasangan ini rela menjual rumahnya untuk bisa membiayai pelatihan catur anaknya. “Saya sudah tawarkan dan ajak anak saya dalam beberapa kegiatan ektrakurikuler, tapi yang dipilih malah catur,” ujar Singgih.

Prestasi pertama Irene dimulai pada usia 9 tahun, dengan mengikuti kejuaraan nasional dan meraih gelar Master Percasi Wanita, sejak itu berbagai prestasi mulai ditorehkannya. Hingga pada tahun 2008, Irene berhasil meraih Grand Master Wanita Internasional, saat usianya masih 16 tahun.

Demi mendukung prestasi anaknya dalam olahraga catur, Singgih dan isterinya memang tak tanggung-tanggung mendukung baik dalam hal moriil dan material.

Misalnya mereka rela makan seadanya dan mengalah pada menu makanan anaknya yang harus selalu mengandung protein.

Di sisi lain, Singgih yang juga mantan atlet provinsi tenis meja ini, kerapkali menerapkan disiplin tinggi bagi putrinya Irene. Bahkan hingga kini jika Irene kalah bertanding, maka ia harus menerima hukuman berlari keliling lapangan di Gelora Bung Karno Senayan.

Memiliki anak dengan keterbatasan? Mungkin bisa belajar pada orang tua atlet Judo, Krishna Bayu. Ia lahir dari keluarga atlet, lima dari sepuluh saudaranya atlet judo dan ayahnya yang juga pelatih judo, Amin Prambudi. Di Kick Andy, Amin menceritakan bagaimana pengalamannya mengatur pola makan dan latihan bagi anak-anaknya, termasuk bagi Bayu yang memiliki riwayat penyakit epilepsi.

Dalam kondisi demikian, Bayu sudah menorehkan prestasi baik di tingkat nasional dan tingkat internasional. “Saya ingin menunjukkan bahwa kekurangan itu bisa menjadi kekuatan,” ujar Khrisna yang mendapat pelatihan khusus dari sang ayah sejak usia dini.

Bagi Khrisna, tugas seorang atlet di event internasional adalah mengibarkan sang Merah Putih. Sebagai anak bangsa, Ia mewujudkan tanggung jawabnya itu, meski sejak 13 tahun lalu cedera lutut, dan mengalami betis yang sobek pada Sea Games 2009 di Laos. “Saya gak akan setengah-setengah meski kaki saya robek otot saya tapi ga kan mundur, saya tidak akan menyerah,” tegasnya. Alhasil, dalam kondisi demikian, Khrisna bisa merebut medali emas dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Semangat yang membara juga dimiliki oleh Victoria Chandra Tjiong, gadis asal bali yang memiliki prestasi cemerlang di dunia olahraga golf. Gadis berusia 13 tahun ini mampu menembus peringkat ke-7 dunia dalam ranking pegolf internasional di kelompok umurnya. Prestasi hebat ini ia peroleh pada juli 2010 lalu, dalam turnamen optimis junior world champion di Florida, Amerika Serikat.

Perkenalan victoria dengan stick golf, dimulai ketika duduk di bangku kelas IV SD, dimana ia sering mengikuti ayahnya Rudi Chandra yang punya hobi bermain golf. Meski sang ayah cuma pegolf amatir, tapi Rudi da istrinya dengan serius mendukung keinginan anaknya untuk menjadi seorang pegolf professional.

Prestasi Vicky tak hanya pada kelompok umur 13, dalam Indonesia Ladies Open 2008 lalu, Vicky berhasil menyabet Overall Best Nett, sementara di tingkat internasional, dia meraih Best Net II dalam Filipina Ladies Open tahun 2009.

Dari Dunia bulutangkis, ada kisah seorang single parent yang berjuang untuk meng-atletkan dua putranya. Adalah Halimah, yang biasa dipanggil Awan, seorang perempuan single parent yang harus hijrah dari Palembang ke Jakarta, setelah perceraian dengan sang suami.

Halimah kemudian memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan berjualan pempek khas palembang, sementara dua anaknya Frans Kurniawan dan Fernando Kurniawan kemudian dititipkan di rumah sang nenek.

Ketertarikannya pada olahraga ini dimulai saat ia menonton acara olahraga bulu tangkis di televisi. Berawal dari ketertarikan dan didukung dengan upaya keras sang ibu mencari biaya awal sebagai atlet. ”Padahal masa itu nyari uang Rp 150 ribu untuk pendaftaran ikut club saja susah sekali,” kata Halimah.

Kisah susah sudah berubah, karena kini Frans dan Fernando bisa meraih prestasi demi prestasi di bidang bulutangkis, baik di tingkat nasional maupun dunia. Keberhasilan keluarga ini sudah memperlihatkan pada kita, bahwa dengan perjuangan dan kasih sayang, seorang ibu single parent pun, bisa mencetak kedua anaknya menjadi atlit bulutangkis yang mengharumkan bangsa.

Tak jauh dari kisah itu, di dunia badminton ada juga Cerita Febby Angguni, yang sejak kecil punya ketertarikan pada olahraga ini. “Selagi kecil, suka merengek-rengek atau nangis kalo minta raket gak kami kasih,” kenang Merry Martini, sang Ibu.

Melihat bakat anaknya, Sang Ayah, Tony Karel, kemudian mencoba mendaftarkan Feby di beberapa club bulutangkis. Maka gadis kecil itu pun harus sudah sering pisah bersama orang tua sejak usia kelas IV Sekolah Dasar, demi cita-ciatnya menjadi seorang atlet. Prestasi Febby angguni terus menanjak, sejak berkiprah di PB Djarum, baik di kejuaraan nasional dan internasional.

Dalam acara tersebut juga akan ditayangkan cuplikan acara off-air KICK ANDY dalam rangka Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis PB Djarum di Kudus pada tgl. 2 Juli 2010.

Bubarkan Saja Kejuaraan Dunia antar Mahasiswa!

Lee Sheng Mu dalam Poster Kejuaraan (Sumber :2010wubac.ctusf.org.tw)

Kejuaraan dunia antar Mahasiswa atau World University Championship telah menjadi ajang yang tidak sesuai dengan titel kejuaraan. Lihat saja dalam kejuaraan dunia Mahasiswa 2010,tim China menurunkan Juara dunia ganda campuran 2010, Zheng Bo/Ma Jin dan pemain tenar lainnya Shu Cheng. Sementara tuan rumah China Taipei menurunkan hampir semua pemain terkuatnya seperti Lin Yu-lang, Chen Hung Lin, Lee Sheng Mu, Fa Chieh Min,ChengShao Chieh dan Yi Hsuan Hsueh. Indonesia sendiri menampilkan kombinasi mantan pelatnas seperti Tommy Sugiarto dan Ahmad Rivai dengan pemain-pemain Pelatnas antara lain Fernando Kurniawan, Wifqi Windarto, Jenna Gozalli, Bellaetrix Mannuputti dan Variella Aprilsasi.

Apa yang salah dengan nama-nama pemain yang beredar pada kejuaraan tahun ini? Pertanyaan mendasar, apakah mereka benar-benar mahasiswa? Beberapa pemain yang mendaftar menjadi mahasiswa menjelang kejuaraan dan itupun sekedar status. Memang ada mahasiswa asli seperti juara tahun 2004, Bonsak Polsana (Thailand) yang kemudian diwisuda menjadi sarjana. Tapi simak nama-nama para juara dunia lainnya, apakah sudah terdengar mereka benar-benar belajar di bangku kuliah? Wang Yihan, He Hanbing, Bona Septano, Muhammad Ahsan dan lain-lain merupakan para mantan juara di kejuaraan ini. Kejujuran dalam pengiriman pemain sudah ternodai di tingkat dunia,apalagi pada tingkat dibawahnya.

Saya pernah mengikuti sebuah invitasi nasional antar mahasiswa di Bandung beberapa tahun silam. Beberapa universitas mengirimkan pemain yang benar-benar berprofesi sebagai atlet. Tentu saja, peserta yang benar-benar dari kalangan mahasiswa dibuat babak belur.

Pertanyaannya, apakah pemain top tidak boleh mengikuti kejuaraan antar mahasiswa? Jawabnya demi kejujuran kalau memang atlet tersebut mahasiswa sebenarnya dan bukan mahasiswa cabutan maka kehadiran mereka bisa menjadi penarik minat penonton kejuaraan. Namun bila sebaliknya, apa perlunya pakai label turnamen antar universitas? Jadikan saja “open turnamen” biasa.

Pendidikan Tinggi Buat Atlet

Dari pada atlet hanya menjadi mahasiswa “KTM”, mengapa tidak disediakan universitas khusus atlet sekalian. Untuk tidak memberatkan para atlet, jadwalnya disesuaikan serta jangka waktu kuliah lebih lama. Misalnya di universitas biasa diselesaikan 4-5 tahun tapi di universitas khusus tersebut di program 8-10 tahun. Dengan begitu, selepas para atlet pensiun, mereka sudah dapat diwisuda sebagai sarjana dan menjadi bekal menjadi kehidupan sebagai purna atlet. Jurusan-jurusan yang disediakan dipilih yang memang disesuaikan dengan kebutuhan atlet di masa mendatang seperti manajemen, enterprenuership, kepelatihan olahraga dan kesehatan olahraga.

Mudah-mudahan di waktu mendatang, kementerian pendidikan nasional yang mewadahi mahasiswa dan pelajar memikirkan masalah ini. Kejuaraan antar mahasiswa hendaknya bukan dijadikan sekedar mengejar gelar juara namun lebih kepada persahabatan dan kerja sama universitas dan sekolah antar bangsa. Kalau hal ini terwujud maka kalimat judul :”Bubarkan Saja Kejuaraan Dunia antar Mahasiswa” tidak perlu dihiraukan lagi

Lilyana Natsir : Menyimpan Asa Terpendam

Para Juara Dunia Tampil di Kick Andy

Rencana penayangan acara Kick Andy yang menampilkan Fran Kurniawan, Fernando Kurniawan dan Febby Angguni tanggal 24 September mendatang, membuat saya teringat penampilan para juara dunia pada acara yang sama tiga tahun silam. Ketika itu pasangan pebulutangkis Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Markis Kido/Hendra Setiawan yang tampil sebagai bintang tamu, baru saja merebut tahta pada kejuaraan dunia tahun 2007. Untuk mengingat kembali kenangan tersebut, saya membuka kembali file video rekamannya. Salah satu perbincangan yang menarik, ketika Andy F Noya mewawancarai Lilyana Natsir.

Perbincangan dimulai dengan pertanyaan tentang motivasi butet –panggilan akrab Lilyana- dalam kejuaraan dunia yang berlangsung di Kuala Lumpur tersebut. “Dari awal tahun 2006 kami (bersama nova) sempat drop setelah tahun 2005 meraih juara dunia. Kami belajar dari pengalaman kekalahan-kekalahan tersebut. Walaupun ditargetkan juara tapi kami tidak boleh terbebani dalam pertandingan,” ungkap Butet. Butet dan Nova bermain sebaik mungkin dan mengeluarkan segala kemampuannya. Hasilnya mereka menjadi juara dunia setelah mengalahkan pasangan kuat asal China, Zheng Bo/Gao Ling.

Butet memulai karir di bulutangkis bermula dari hobi meskipun bapaknya menekuni olahraga basket. Butet memang sangat menyenangi semua olahraga yang kebetulan dirinya lahir di hari olahraga nasional (Haornas) tanggal 9 September 1985 di Manado. Namun sedikit berbeda dengan olahraga lainnya, Butet tidak sekedar hobi berbulutangkis tapi berkeinginan mendalaminya sampai akhirnya menjadi pemain top dunia. Keluarga Butet juga sempat mengingatkan tentang masa depannya di bulutangkis tetapi saat itu Butet yakin meraih masa depannya seperti sekarang. Keyakinan tersebut membuat Butet memutuskan belajar dibangku sekolah hanya sampai SD (Sekolah Dasar).

Saat diwawancara Andy Noya, Butet mengungkapkan tekadnya untuk menjadi juara Olimpiade. Sayang setahun kemudian di Beijing tahun 2008, Nova/Butet harus puas dengan gelar runner-up setelah dikalahkan pasangan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung. Kesempatan bagi Butet sebenarnya masih terbuka pada Olimpiade tahun 2012. PBSI juga sedang memikirkan pasangan yang ideal bagi Butet untuk menggantikan posisi Nova. Beberapa waktu lalu Butet sukses menjadi juara Malaysia Open GPG bersama Devin Lahardi dan memenangkan Macau Open berduet dengan Tantowi Ahmad. Siapa pun pasangannya nanti semoga Butet mampu mewujudkan asa yang  masih terpendam.

Febby Angguni : Dari Calon Petinju Menjadi Pebulutangkis

"Duet Maut" Febby Angguni dan Ana Rovita

Dukungan dari orang tua merupakan modal berharga bagi seorang atlet. Demikian halnya dengan pebulutangkis Febby Angguni yang selalu mendapat dukungan orang tuanya. “Tadinya Febby mau saya suruh jadi petinju. Saya ini pengurus organisasi tinju di kota Bandung,” cerita Tony yang merupakan ayah dari Febby. “Panggilan hati Febby ternyata di bulutangkis. Kami mendukung sepenuhnya pilihan tersebut,” lanjut sang Ayah. Kisah itu terungkap saat rekaman acara Kick Andy yang akan ditayangkan tanggal 24 September mendatang. Sang ayah lah yang mengantar Febby untuk masuk sebuah klub di Surabaya.

Bagaimana dengan ibunya? Lebih menarik lagi ternyata ibunya hampir melahirkan di GOR hanya karena ingin menonton pertandingan Febby. Cerita bermula ketika ibunya Febby sudah memasuki usia kehamilan 9 bulan. Febby sudah melarang ibunya untuk menonton sebuah turnamen yang berlangsung di Tegal. Namun Febby kaget saat babak perempat final, sang ibu ada dibarisan penonton bersama ayahnya. Besok malamnya saat semi final, Febby hanya melihat ayahnya saja di tribun yang membuat Febby heran. Seusai memenangkan partai semi final, Febby diberitahu bahwa ibunya sudah mengalami ketuban pecah dan dibawah ke rumah sakit. Sang ibu yang bernama Murni tersebut akhirnya memberikan adik buat Febby pada subuh harinya. Dengan tekad memberikan kado buat adik baru, kemudian Febby memenangkan partai final dan meraih gelar juara. Demikianlah bagaimana besarnya dukungan ayah dan ibu buat seorang Febby.

Ketika sang host, Andy F Noya menanyakan rencananya setetlah pensiun, dengan tegas Febby menjawab :”Ingin menjadi penyanyi dangdut.” Selepas acara, Febby memamerkan kebolehannya bernyanyi dan berjoget dangdut dengan ditemani rekannya Ana Rovita. Febby pun membawakan lagu Keong Racun dan kucing garong. Namun sebenarnya pemain yang mengidolakan Susi Susanti dan Taufik Hidayat ini ingin menjadi pelatih dan punya klub serta gedung bulutangkis sendiri seusai gantung raket nanti. Sebelum mewujudkan mimpinya setelah pensiun tentu Febby punya mimpi untuk menjadi juara dunia dan olimpiade. Semoga berhasil Febby.

Logo Turnamen Manakah Yang Terbaik?

Salah satu bagian yang tidak terlewatkan dalam menggelar sebuah turnamen yakni logo. Dalam sebuah logo terkandung makna dari tujuan turnamen disamping mengandung unsur sponsorhips turnamen. Beberapa logo turnamen tahun 2010 telah saya kumpulkan untuk dipilih mana yang terbaik menurut anda? Bisa juga ditambahkan komentar pada kolom komentar. Untuk referensi, anda dapat melihat gambar logo dibagian atas dan bagian bawah polling. Terima kasih

Logo-Logo Turnamen (1)

Logo-Logo Turnamen (2)

Menghidupkan Media Bulutangkis

Indonesia boleh berjaya dibidang bulutangkis. Perjalanan sejarah bulutangkis Indonesia patut dibanggakan diatas cabang-cabang olahraga lainnya. Namun perjalanan media bulutangkis justru terseok-seok. Di media cetak, pada era 90-an pernah ada tabloid “Raket” yang kemudian berubah menjadi majalah “Raket”. Tidak selang beberapa lama media ini menghilang di telan bumi. Lalu muncul lagi majalah “Badminton Asia” yang beredar di Hongkong, Singapura dan Indonesia. Saya hanya menemukan 4 edisi dari majalah berbahasa Inggris tersebut. Dari Surabaya muncul tabloid “Smash” dimana saya sempat menjadi kontributor dengan menulis beberapa artikel.

Salah satu halaman Tabloid Smash

Tabloid sempat terbit sebanyak tiga edisi, namun setelah pemiliknya pindah ke Kanada, tidak ada yang melanjutkan kiprah tabloid Smash. Harapan sempat muncul kembali ketika beberapa pecinta bulutangkis meluncurkan majalah “Jurnal Bulutangkis”.

Majalah Jurnal Bulutangkis

Majalah yang disingkat JB ini belum diketahui nasibnya setelah terbitnya edisi keempat. Sebenarnya masih ada satu tabloid lagi yakni Planet Badminton. Yang terakhir ini merupakan tabloid gratis yang lebih mudah ditemui saat ada turnamen bulutangkis.

Media televisi pun sebenarnya mengalami hal yang sama. Malah kalau melihat kebelakang saat stasiun televise hanya satu, TVRI sering memanjakan masyarakat dengan siaran-siaran langsung dari turnamen besar seperti Thomas-Uber Cup, kejuaraan dunia, Indonesia Open bahkan kejuaraan dunia yunior. Terbalik kondisinya ketika Taufik Hidayat mengharumkan nama bangsa lewat medali emas Olimpiade tahun 2004, hanya pelanggan televisi berbayar saja yang mampu menikmati siaran langsungnya.  Sebuah stasiun televisi pernah mengklaim dirinya sebagai televisi bulutangkis. Slogan yang hanya bertahan kurang dari hitungan tahun. Satu-satunya harapan tersisa tertuju kepada stasiun Trans 7 yang  juni lalu menyiarkan langsung turnamen Indonesia Open. Kemudian sempat beredar kabar, Trans 7 tidak akan menayangkan Kejuaraan Dunia. Syukurlah ketika turnamen dimulai tersiar kabar, Trans 7 akan menayangkan babak semi final dan final. Komentar pujian langsung bertebaran di dunia maya lewat jejaring social facebook dan twitter terhadap stasiun yang satu ini.

Media Online

Media online merupakan media yang paling  memungkinkan untuk konsisten terhadap berita seputar bulutangkis. Ini terlihat dari media-media ternama seperti kompas.com maupun detik.com. Selain itu masih ada pula portal-portal khusus bulutangkis seperti bulutangkis.com, pbdjarum.com, badminton-indonesia.com dan tepokbulu.com. Dari luar negeri tentu yang paling favorit adalah  tournamentsoftware.com, bwfbadminton.org dan badzine.info

Untuk lebih menyemarakkan media online ini, saya dan beberapa teman mencoba menambah alternatif bagi pecinta bulutangkis dengan meluncurkan web site www.super-badminton.com . Blog bulutangkisnesia.wordpress.com ini juga menampung kritik dan saran dari penggemar bulutangkis buat web site www.super-badminton.com . Tujuan diluncurkan situs ini tentu saja memperkaya media bulutangkis online ditengah minimnya berita bulutangkis baik di media cetak maupun media televisi. Semoga bulutangkis Indonesia selalu berjaya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.